JAKARTA, 2 Januari 2026 – Kabar kurang sedap datang dari emiten pertambangan batu bara, PT Black Diamond Resources Tbk (COAL), setelah salah satu pemegang saham pendirinya melakukan aksi jual saham secara masif di penghujung tahun 2025. Sujaka Lays dilaporkan telah melepas porsi kepemilikannya di perseroan secara bertahap, yang berdampak langsung pada pelemahan harga saham COAL di pasar bursa.
Detail Aksi Divestasi Bertahap Berdasarkan laporan keterbukaan informasi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI), Sujaka Lays melakukan rangkaian transaksi penjualan dalam empat hari perdagangan sepanjang periode 18 hingga 30 Desember 2025. Rincian aksi jual tersebut adalah sebagai berikut:
• 18 Desember 2025: Menjual 679.700.100 saham pada harga Rp105 per saham.
• 19 Desember 2025: Menjual 15.000.000 saham pada harga Rp99 per saham.
• 22 Desember 2025: Menjual 55.000.000 saham pada harga Rp96 per saham.
• 30 Desember 2025: Menjual 70.073.800 saham pada harga Rp91 per saham.
Secara akumulatif, Sujaka Lays telah melepas sebanyak 819.773.900 saham atau setara dengan penurunan porsi kepemilikan sebesar 13,11 persen dibandingkan posisi akhir November 2025.
Penyusutan Kepemilikan dan Dampak Harga Akibat aksi divestasi bertubi-tubi ini, porsi kepemilikan Sujaka Lays di COAL menyusut tajam dari sebelumnya 48,01 persen (setara 3.000.563.400 saham) menjadi tinggal 34,89 persen (setara 2.180.789.500 saham) pada akhir Desember 2025. Meskipun kepemilikannya berkurang, jumlah tersebut masih mewakili 34,89 persen hak suara di perseroan.
Seiring dengan aksi jual oleh sang pendiri, harga saham COAL di pasar modal juga mengalami tekanan hebat. Sempat menyentuh level tertinggi di angka Rp132 pada pertengahan Desember, harga saham terus bergerak turun hingga akhirnya ditutup “nyungsep” di level Rp86 per saham pada perdagangan terakhir tahun 2025. Penurunan ini sangat kontras jika dibandingkan dengan harga awal bulan Desember yang masih bertahan di level Rp112 per saham.
Penurunan harga yang signifikan ini menandai tren pelemahan tajam bagi emiten tersebut di tengah langkah divestasi strategis yang dilakukan oleh salah satu pemegang saham utamanya.

Tinggalkan komentar