Jakarta, (BlueFindo.com) — Memasuki pekan pertama di bulan Januari 2026, panggung pasar modal Indonesia diramaikan dengan berbagai aksi korporasi strategis, mulai dari langkah berani para “insider” yang memborong saham hingga manuver divestasi demi mematuhi regulasi bursa. Berikut adalah rangkuman berita penting yang mewarnai hari ini, Senin, 5 Januari 2026.
Aksi Borong Saham oleh Petinggi Emiten Sinyal optimisme terpancar dari jajaran direksi dan pengendali sejumlah emiten yang melakukan aksi “serok” saham di harga pasar. Direktur PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), Yulisar Khiat, dilaporkan memborong 11,27 juta lembar saham senilai Rp15,64 miliar. Langkah serupa dilakukan oleh pengendali PT Wira Global Solusi Tbk (WGSH), Ikin Wirawan, yang merogoh kocek Rp2,95 miliar untuk menambah porsi kepemilikannya menjadi 12,38 persen.
Tak ketinggalan, Grup Emtek melalui anak usahanya terus memperkuat cengkeraman di PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) dengan akumulasi saham senilai Rp25,77 miliar. Di sektor perunggasan, direksi PT Ayam-Janu Putra Sejahtera Tbk (AYAM) juga menunjukkan kepercayaan diri dengan investasi pribadi senilai Rp13,75 miliar.
Rencana Strategis: Rights Issue dan Konsolidasi Perbankan Dua aksi penggalangan dana besar menjadi sorotan utama. PT Abadi Nusantara Hijau Investama (PACK) resmi mendaftarkan Obligasi Wajib Konversi (OWK) senilai Rp3,25 triliun sebagai bagian dari rencana rights issue mereka. Sementara itu, PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) juga bersiap membidik dana Rp3,2 triliun melalui mekanisme serupa, di mana BEI telah menetapkan harga teoritis sahamnya di level Rp472.
Di sektor perbankan, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) menegaskan pembentukan Kelompok Usaha Bank (KUB) dengan Bank Lampung setelah melakukan setoran modal sebesar Rp100 miliar. Di sisi lain, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memberikan pembaruan mengenai realisasi buyback senilai Rp249,99 miliar dan mengumumkan likuidasi permanen anak usahanya di Hong Kong, BCA Finance Limited, per 3 Januari 2026 untuk optimalisasi layanan digital.
Divestasi dan Pengawasan Bursa Beberapa pengendali memilih untuk melepas sebagian sahamnya. Axiata Investments mendivestasi 36,56 juta saham PT Link Net Tbk (LINK) agar porsi saham publik (free float) mencapai batas minimal 7,5 persen. Haskojaya Abadi juga mengurangi kepemilikannya di PT Pelayaran Nelly Dwi Putri (NELY), meskipun saham emiten tersebut justru melonjak 16 persen pada awal perdagangan 2026.
Bursa Efek Indonesia (BEI) juga mengambil tindakan tegas dengan memasukkan saham PT MDTV Media Technologies Tbk (NETV) ke dalam pengawasan khusus (Unusual Market Activity) akibat lonjakan harga yang agresif. Sebaliknya, kabar baik datang dari PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS) yang masa suspensi sahamnya resmi diakhiri hari ini.
Update Kinerja, Hukum, dan CSR Dari sisi performa keuangan, PT Master Print (PTMP) melaporkan penurunan laba yang cukup tajam hingga 201 persen pada kuartal III 2025. Sementara itu, emiten konstruksi PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) menjalani sidang lanjutan terkait gugatan PKPU yang dilayangkan oleh PT Abacurra Indonesia.
Sebagai bentuk tanggung jawab sosial, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) melalui unit Pani Gold Mine terpantau aktif di lapangan dengan mengerahkan tim darurat dan alat berat untuk menangani bencana banjir di Kabupaten Pohuwato. Terakhir, PT UBC Medical Indonesia Tbk (LABS) resmi merombak direksinya dengan mengangkat Dr. Yudha Indrawirawan sebagai Direktur Operasional yang baru.





Tinggalkan komentar