Jakarta, (BlueFindo.com) — Emiten teknologi PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE) tengah bersiap melakukan transformasi bisnis besar-besaran melalui rencana akuisisi aset pertambangan di luar negeri. Langkah ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi usaha yang diinisiasi oleh pemegang saham pengendali, Poh Kay Ping, untuk memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham.

Akuisisi Jumbo di Mongolia Techno9 Indonesia berencana mengambil alih aset pertambangan milik Poh Golden Ger Resources Pte Ltd (PGGR) yang berlokasi di Mongolia. PGGR sendiri merupakan pemilik 100 persen dari dua konsesi pertambangan di negara tersebut dan merupakan afiliasi dari Poh Group.

Nilai indikatif untuk akuisisi aset-aset ini mencapai USD 150 juta. Namun, harga transaksi final akan ditentukan berdasarkan nilai rata-rata dari hasil penilaian dua penilai independen yang berasal dari Indonesia dan Australia. Perseroan telah memperoleh opsi untuk membeli aset tersebut dengan jangka waktu berlaku selama sembilan bulan sejak penandatanganan perjanjian.

Kolaborasi dengan Raksasa Tiongkok Untuk mendukung operasional tambang di Mongolia tersebut, PGGR telah meneken kesepakatan kerangka kerja (framework agreement) dengan kontraktor Engineering, Procurement and Construction + Finance (EPC+F) berskala besar dari Tiongkok. Kontraktor ini memiliki total aset melebihi USD 500 juta dan pengalaman luas dalam mengoperasikan tambang terbuka maupun bawah tanah,.

Entitas EPC+F tersebut menyatakan kesiapannya untuk berinvestasi lebih dari USD 100 juta guna mengimplementasikan operasi pertambangan bagi proyek-proyek NINE dan PGGR. Kapasitas produksi tahunan dari proyek ini diproyeksikan mampu melampaui 20 juta ton.

Ekspansi Tambang di Dalam Negeri Tidak hanya di luar negeri, Techno9 Indonesia juga sedang melakukan negosiasi lanjutan secara intensif untuk kerja sama operasi (JO) dengan beberapa perusahaan pertambangan di Indonesia yang telah memiliki izin usaha sah,. Komoditas yang menjadi incaran perseroan meliputi:

Emas

Batubara

Timah

Bauksit

Direktur Utama Techno9, Nuzwan Gufron, menegaskan bahwa langkah ini merupakan jalur monetisasi aset yang lebih terstruktur bagi perseroan. “Perseroan akan terus melakukan penjajakan dan pengembangan berbagai peluang usaha di Indonesia maupun kawasan regional untuk memberi nilai tambah berkelanjutan,” ungkapnya.

Aksi korporasi NINE ini menambah panjang daftar dinamika pasar modal di awal tahun 2026, bersanding dengan berita besar lainnya seperti penuntasan transaksi Rp5,56 triliun oleh Bank BTN serta perombakan direksi di tubuh UBC Medical Indonesia (LABS).


Eksplorasi konten lain dari Blue Finance Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Sedang Tren