Jakarta, (BlueFindo.com) — Saham publik PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) mencatatkan lonjakan drastis pada penghujung tahun 2025, memicu spekulasi pasar yang kuat menyusul perubahan besar pada struktur kepemilikan dan rencana merger strategis dengan Grup Sinar Mas.
Lonjakan Likuiditas dan Perpisahan dengan XL Berdasarkan data terbaru, porsi saham publik atau free float MORA kini meledak mencapai 33,83 persen, melonjak tajam dari posisi bulan sebelumnya yang hanya sebesar 15,51 persen. Tercatat sebanyak 8,00 miliar saham kini beredar di publik dari total 23,64 miliar saham yang tercatat di bursa.
Pelebaran free float ini merupakan buntut dari langkah strategis PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) yang memutuskan untuk melepas seluruh kepemilikannya di MORA. Pada 4 Desember 2025, EXCL menjual 4,33 miliar saham atau setara 18,32 persen kepemilikan dengan nilai transaksi menembus Rp1,87 triliun.
Pasca-hengkangnya XL, kepemilikan MORA kini terkonsentrasi pada PT Candrakarya Multikreasi (35,99%) dan PT Gema Lintas Benua (30,18%), sementara sisanya kini berada di tangan masyarakat, yang dinilai akan meningkatkan likuiditas perdagangan di pasar reguler.
Menuju Ekamas Mora Republik Tbk Sentimen positif terhadap MORA kian menguat seiring rencana merger dengan PT Eka Mas Republik (MyRepublic Indonesia), entitas fiber optik milik Sinar Mas Group melalui PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Dalam skema ini, MORA akan menjadi entitas yang bertahan dan bersiap berganti nama menjadi PT Ekamas Mora Republik Tbk.
Proses merger ini ditargetkan rampung pada April 2026, dengan potensi dilusi saham hingga 50,5 persen. Integrasi dengan jaringan fiber optik dan basis pelanggan MyRepublic diharapkan mampu membawa MORA ke level valuasi yang lebih tinggi.
Performa Saham dan Kondisi Pasar Harga saham MORA menunjukkan tren agresif dengan kenaikan 15,22 persen dalam satu bulan terakhir. Pada perdagangan hari ini, 6 Januari 2026, harga MORA terpantau naik 375 poin atau sekitar 3,15 persen hingga siang hari.
Gairah saham MORA ini sejalan dengan kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kembali memecahkan rekor baru dengan penguatan 0,84%. Penguatan pasar juga didorong oleh performa apik sejumlah sektor, terutama Sektor Dasar (3,35%), Sektor Industri (2,14%), dan Sektor Energi (1,62%).
Di tengah optimisme ini, pasar juga diramaikan oleh beberapa aksi korporasi lain seperti program buyback saham BCA senilai Rp5 triliun serta kesiapan BSD dalam membayar bunga obligasi dan sukuk senilai Rp7,5 miliar.





Tinggalkan komentar