Jakarta, (BlueFindo.com) – PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA) resmi memasuki babak baru dalam sejarah bisnisnya setelah kendali perusahaan kini berada di bawah Morris Capital Indonesia (MCI). Melalui akuisisi sebesar 48,88% hingga 49,92% saham, MCI membawa visi besar untuk mentransformasi PIPA dari sekadar produsen pipa konvensional menjadi pemain utama dalam ekosistem energi dan infrastruktur nasional.
Suntikan Modal dan Diversifikasi Masif Langkah strategis ini didukung oleh komitmen kuat dari Morris Capital yang berencana melakukan injeksi aset senilai Rp3 triliun sebagai modal ekspansi bisnis. PIPA tidak lagi hanya fokus pada manufaktur pipa, melainkan merambah ke sektor-sektor strategis seperti Oil & Gas, distribusi BBM, logistik energi darat-laut, serta infrastruktur penyimpanan bahan bakar.
Dengan memanfaatkan keahlian dalam produk berbasis polyethylene seperti pipa HDPE, PIPA memposisikan diri sebagai penghubung vital dalam rantai pasok energi dari hulu ke hilir. Upaya ini dinilai tepat waktu mengingat pemerintah tengah gencar melakukan pembangunan konstruksi dan infrastruktur nasional.
Kinerja Keuangan dan Respon Pasar Hingga September 2025, PIPA sebenarnya telah menunjukkan performa yang solid dengan pertumbuhan pendapatan usaha sebesar 30,5% secara tahunan (YoY). Masuknya MCI sebagai pengendali baru diharapkan mampu melipatgandakan kinerja tersebut melalui proyek-proyek energi yang jauh lebih besar.
Pengamat pasar modal sekaligus founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai bahwa integrasi vertikal ini adalah langkah yang sangat cerdas. “Dengan skema injeksi aset Rp3 triliun, PIPA berpotensi keluar dari bayang-bayang masa lalu dan menjadi bagian penting dalam tulang punggung energi Indonesia,” ujarnya.
Analisis Teknikal dan Rekomendasi Investor Meskipun secara fundamental sangat positif, pergerakan saham PIPA di lantai bursa masih menunjukkan volatilitas yang sangat tinggi. Setelah sempat mencetak kenaikan fantastis, saham ini mengalami koreksi tajam dan kini berada dalam fase tarik-menarik antara sentimen jangka pendek dan potensi jangka panjang.
Beberapa indikator teknikal seperti RSI 14-hari dan MACD seringkali menunjukkan sinyal beli atau netral pada saat harga terkoreksi. Namun, investor disarankan tetap waspada karena rata-rata bergerak jangka panjang (MA200) mungkin masih menunjukkan sinyal jual pasca-koreksi besar. Saham ini dinilai lebih cocok bagi investor dengan profil agresif yang fokus pada realisasi rencana bisnis jangka panjang.
Kabar transformasi PIPA ini muncul di tengah gairah pasar modal secara keseluruhan, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi siap menembus level 8.900. Selain PIPA, beberapa emiten lain seperti Merdeka Resources (EMAS) dan entitas usaha DKFT juga terpantau melakukan aksi korporasi strategis di awal tahun ini.





Tinggalkan komentar