Jakarta, (BlueFindo.com) — Di tengah euforia Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kembali memecahkan rekor baru, sektor asuransi digital justru menghadapi tekanan regulasi yang mulai memicu dinamika di tingkat pemegang saham strategis,. Saham PT Asuransi Digital Bersama Tbk. (YOII) menjadi sorotan setelah salah satu pemegang saham utamanya dilaporkan mulai mengurangi porsi kepemilikannya.
Aksi Jual Dapen Bank Jateng di Tengah Tekanan Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis pada Selasa (6/1), Dana Pensiun Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah (Dapen Bank Jateng) resmi menarik sebagian kecil porsi kepemilikannya di YOII. Dapen Bank Jateng melepas sebanyak 8.290.000 lembar saham dengan harga pelaksanaan Rp120 per saham pada transaksi yang dilakukan 5 Januari 2026.
Nilai transaksi tersebut mencapai Rp994,8 juta, yang menyebabkan porsi kepemilikan Dapen Bank Jateng menyusut dari 9,1692% menjadi 8,8272% atau setara 305.845.000 saham,. Meski sebelumnya saham YOII sempat terbang 28,71% pada perdagangan Senin, aksi jual ini diikuti dengan anjloknya harga saham YOII sebesar 12,31% ke level Rp114 pada perdagangan intraday Selasa (6/1).
Mengejar Tenggat Ekuitas Rp250 Miliar Langkah pelepasan saham ini terjadi seiring meningkatnya perhatian pasar terhadap implementasi POJK No. 23 Tahun 2023. Regulasi tersebut mewajibkan perusahaan asuransi konvensional memiliki ekuitas minimum sebesar Rp250 miliar paling lambat pada 31 Desember 2026.
Hingga saat ini, posisi ekuitas YOII tercatat sebesar Rp205,23 miliar, yang berarti perusahaan masih kekurangan sekitar Rp45 miliar untuk memenuhi ambang batas tahap pertama tersebut. Menurut analisis dari Stockbit, emiten asuransi yang berada di bawah ketentuan modal minimum memiliki urgensi tinggi untuk melakukan aksi korporasi strategis seperti rights issue, private placement, maupun merger guna mengejar tenggat waktu yang semakin dekat.
Kondisi Pasar Modal Secara Menyeluruh Terlepas dari tekanan yang dialami YOII, kondisi pasar modal Indonesia secara umum sedang dalam tren sangat positif. IHSG terpantau menguat 0,84% didorong oleh sektor-sektor unggulan seperti Sektor Dasar (3,35%), Industri (2,14%), dan Energi (1,62%).
Beberapa aksi korporasi besar lainnya juga turut mewarnai awal tahun 2026 ini, di antaranya,:
• BCA (BBCA): Sedang menjalankan program buyback senilai Rp5 triliun yang telah berlangsung sejak Oktober 2025.
• Bumi Serpong Damai (BSDE): Menyiapkan pembayaran bunga obligasi dan imbal hasil sukuk sebesar Rp7,5 miliar.
• Bank Indonesia: Melanjutkan stabilitas moneter dengan merilis Sukuk senilai Rp3 triliun.
• MORA: Mencatatkan lonjakan free float setelah berpisah dari XL dan dikabarkan merapat ke Grup Sinar Mas.
Meskipun performa mingguan dan bulanan saham YOII masih mencatatkan pertumbuhan masing-masing sebesar 22,64% dan 30%, investor kini mulai lebih selektif mencermati bagaimana emiten asuransi merespons tekanan regulasi modal minimum tersebut,.





Tinggalkan komentar