Jakarta, (BlueFindo.com) — Emiten teknologi yang bergerak di bidang Internet of Things (IoT) untuk sektor transportasi, PT Sumber Sinergi Makmur Tbk (IOTF), resmi mengumumkan strategi agresifnya untuk tahun 2026. Dengan mengandalkan implementasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), perseroan optimistis dapat memacu kinerja operasional dan mencatatkan pertumbuhan signifikan.
Optimisme Pertumbuhan Double Digit Direktur Utama IOTF, Alamsyah, menyatakan bahwa penggunaan AI memungkinkan proses kerja menjadi lebih cepat, akurat, dan berbasis data real-time. Perseroan menargetkan kenaikan pendapatan dan laba bersih sebesar 30 persen atau tumbuh di level double digit pada tahun ini.
Salah satu target utama IOTF adalah peningkatan produktivitas karyawan. Saat ini, pendapatan per karyawan (revenue per head count) perseroan berada di angka Rp2 miliar, dan pada tahun 2026 ditargetkan melonjak 50 persen menjadi Rp3 miliar. Strategi ini didukung oleh sistem Enterprise Resource Planning (ERP) bernama Fox Ledger yang dikembangkan secara internal untuk menjaga fleksibilitas dan keamanan data. Guna menjaga keberlangsungan bisnis, IOTF juga telah mengantongi empat sertifikasi internasional, termasuk ISO 9001 dan ISO 27001.
IHSG Tembus Rekor di Tengah Dinamika Emiten Langkah optimistis IOTF ini sejalan dengan kondisi pasar modal Indonesia yang sedang bergairah, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus melaju menembus rekor tertinggi baru. Penguatan indeks hari ini didorong oleh lonjakan signifikan di beberapa sektor, antara lain:
• Sektor BUMN (IDXMESBUMN): Naik tajam 3,42%.
• Sektor Industri (IDXINDUST): Menguat 2,40%.
• Sektor Dasar (IDXBASIC): Meningkat 1,11%.
Selain kabar dari IOTF, lantai bursa juga diramaikan oleh berbagai aksi korporasi besar. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) dilaporkan telah menuntaskan transaksi senilai Rp5,56 triliun. Sementara itu, proses restrukturisasi perusahaan negara terus berjalan dengan Bank Mandiri dan BRI yang kompak mengalihkan kepemilikan saham mereka di Danantara Asset Management (AM) kepada Badan Pengelola (BP) BUMN.
Di sisi lain, pergerakan saham individu juga mencuri perhatian. Saham RMKO mencatatkan lonjakan harga hingga ratusan persen yang membuat pengendalinya meraup untung Rp15 miliar. Namun, terdapat sentimen negatif dari saham DEWA, di mana seorang investor dilaporkan melepas 400 juta lembar saham senilai Rp232,4 miliar di harga bawah. Terakhir, data registrasi efek mengungkap fenomena unik di mana tiga dari 13 direksi BNI tercatat tidak memiliki satu lembar pun saham BBNI per akhir Desember 2025.





Tinggalkan komentar