Jakarta, (BlueFindo.com) — PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) resmi mengawali tahun dengan langkah strategis di pasar modal. Berdasarkan informasi dari sumber, pengembang properti raksasa ini menjadi emiten pertama yang mencatatkan instrumen obligasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2026.
Detail Obligasi Summarecon Instrumen yang dicatatkan adalah Obligasi Berkelanjutan V Summarecon Agung Tahap I Tahun 2025, yang mulai tercatat secara resmi pada hari ini, Rabu, 7 Januari 2026. Berdasarkan pengumuman bursa, obligasi ini terbagi menjadi dua seri utama:
• Seri A: Senilai Rp84,53 miliar dengan tingkat bunga tetap 5,85% per tahun dan akan jatuh tempo pada 6 Januari 2029.
• Seri B: Senilai Rp267,43 miliar dengan tingkat bunga tetap 6,5% per tahun dan masa tenor hingga 6 Januari 2031.
Secara keseluruhan, obligasi ini merupakan bagian dari target penghimpunan dana melalui Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) V dengan total nilai Rp500 miliar. Dari jumlah tersebut, sisa pokok obligasi sebesar Rp149,24 miliar akan dijamin dengan skema kesanggupan terbaik (best effort). Sumber menyebutkan bahwa jika bagian best effort ini tidak terjual, maka perseroan tidak berkewajiban untuk menerbitkan sisa obligasi tersebut.
IHSG Terus Cetak Rekor dan Dinamika Emiten Lain Langkah SMRA ini bertepatan dengan momentum Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terus melaju dan kembali menembus rekor tertinggi baru. Selain pencatatan obligasi SMRA, lantai bursa juga diramaikan oleh berbagai aksi korporasi besar lainnya sebagaimana tercatat dalam riwayat data pasar dan sumber terbaru:
• Investor DEWA: Di saat perseroan tengah melakukan aksi buyback besar-besaran senilai Rp429,99 miliar, salah satu investor justru dilaporkan melepas 400 juta saham DEWA senilai Rp232,4 miliar di harga bawah.
• Transaksi Raksasa BTN: PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) dilaporkan baru saja menuntaskan transaksi senilai Rp5,56 triliun.
• Restrukturisasi BUMN: Terjadi pergerakan signifikan di mana Danantara AM mengalihkan kepemilikan saham di beberapa bank besar dan konstruksi, seperti ADHI, BBNI (BNI), dan BMRI (Mandiri) kepada Badan Pengelola (BP) BUMN.
• Ekspansi dan Ganti Rugi: Sementara itu, emiten seperti OPMS terus melaju dengan 16 lini bisnis barunya, dan PJAA (Ancol) telah menerima dana ganti rugi lahan proyek jalan tol senilai Rp175,91 miliar.
Pencatatan obligasi SMRA di awal tahun ini memberikan sinyal positif bagi sektor properti, di mana emiten mulai memanfaatkan instrumen surat utang untuk memperkuat struktur permodalan di tengah gairah pasar modal yang sedang berada di level tertinggi.





Tinggalkan komentar