Jakarta, (BlueFindo.com) — Emiten pertambangan nikel raksasa, PT Vale Indonesia Tbk (INCO), terus memacu kegiatan eksplorasi di penghujung tahun 2025 demi meningkatkan cadangan dan sumber daya mineralnya,. Sepanjang bulan Desember 2025, perseroan tercatat telah mengalokasikan biaya eksplorasi mencapai US$347.877,63 untuk berbagai aktivitas teknis di lapangan.

Berdasarkan laporan bulanan yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia pada 8 Januari 2026, kegiatan ini difokuskan pada sejumlah wilayah strategis yang berada di dalam area Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) perseroan. Wilayah-wilayah tersebut meliputi:

Blok Sorowako dan Sorowako Outer Area di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Blok Bahodopi di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

Blok Pomalaa di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Fokus pada Peningkatan Sumber Daya

Dalam pelaksanaannya, manajemen INCO mengungkapkan bahwa eksplorasi dilakukan dengan menggunakan metode pengeboran core drilling HQ-3. Pengeboran ini menggunakan jarak 100 meter dan 50 meter yang bertujuan untuk meningkatkan tingkat akurasi sumber daya, terutama di wilayah Blok 1 Tetenggala dan Blok 1 Lalombundi yang terletak di Pomalaa.

Selain pengeboran fisik, Vale Indonesia juga menerapkan teknologi survei geofisika melalui metode Geolistrik Electrical Resistivity Tomography (ERT) di area Blok 1 Tetenggala. Seluruh rangkaian kegiatan ini tidak dilakukan sendirian, melainkan bekerja sama dengan pihak ketiga sebagai kontraktor spesialis pengeboran dan geofisika.

Langkah Lanjutan dan Penghitungan Cadangan

Saat ini, hasil pengujian dari lapangan masih dalam tahap analisis intensif. Pihak perseroan tengah melakukan penghitungan sumber daya dan cadangan dengan menggunakan metode ordinary krigging, khususnya untuk wilayah Sorowako.

Ke depan, INCO berkomitmen untuk melanjutkan agenda pengeboran di Blok 1 Lalombundi dan Blok 1 Tetenggala. Hal ini dilakukan guna mendapatkan profil laterit yang lengkap serta memastikan data geofisika melalui pengukuran ERT terus berlanjut di blok-blok potensial tersebut.

Langkah agresif ini sejalan dengan tren industri di mana beberapa emiten lain juga gencar melakukan eksplorasi, seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang baru saja menyerap anggaran Rp27,15 miliar untuk tujuan serupa.


Eksplorasi konten lain dari Blue Finance Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Sedang Tren