Jakarta, (BlueFindo.com) — Pergerakan pasar modal Indonesia hingga siang hari ini, 8 Januari 2026, diwarnai oleh berbagai aksi korporasi besar, mulai dari belanja besar-besaran untuk eksplorasi tambang hingga perubahan kepemimpinan di sektor perbankan. Di tengah dinamika tersebut, IHSG Sesi I tercatat bergerak perkasa hingga nyaris menyentuh level 9.000.
Sektor Pertambangan “Gaspol” Eksplorasi
Sejumlah emiten pertambangan melaporkan realisasi anggaran eksplorasi yang cukup signifikan untuk mengamankan cadangan masa depan. PT Resource Alam Indonesia Tbk (KKGI) melalui anak usahanya mengucurkan dana sebesar US$2,86 juta atau sekitar Rp44 miliar untuk pendalaman di area Sub Blok Handil Bakti dan Blok Tani Bakti hingga Desember 2025.
Langkah serupa juga diambil oleh raksasa nikel PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang menggelontorkan US$347.877 untuk kegiatan eksplorasi sepanjang Desember 2025 di wilayah Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa menggunakan metode pengeboran core drilling HQ-3. Sementara itu, emiten plat merah PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menyerap anggaran Rp27,15 miliar untuk kegiatan eksplorasi kuartal IV 2025 yang mencakup wilayah Tanjung Enim, Peranap, hingga Ombilin.
Percepatan Produksi dan Aksi Jual Saham
Dari sisi operasional, PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) resmi memulai operasional tambang melalui 1st Digging Ceremony bersama KPP Mining (anak usaha United Tractors) dengan target produksi awal sebesar 3 juta metric ton pada tahun 2026.
Di sisi lain, saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) terpantau “ngegas” dengan kenaikan 23,35 persen dalam lima hari terakhir. Di tengah tren penguatan ini, raksasa komoditas global Glencore International Ltd justru melakukan divestasi dengan melepas 18,28 juta lembar saham NCKL secara bertahap pada awal Januari 2026, sehingga kepemilikannya kini tersisa 7,16 persen.
Perubahan Struktur Kepemimpinan dan Strategi Bisnis
Kabar mengejutkan datang dari sektor keuangan, di mana Presiden Direktur Bank Woori Saudara (SDRA), Kim Eungchul, secara resmi mengajukan pengunduran diri pada 7 Januari 2026. Menanggapi hal ini, perseroan berencana menggelar RUPSLB pada 30 Januari 2026 untuk menentukan arah kepemimpinan selanjutnya.
Sementara itu, di sektor konsumsi, PT Lovina Beach Brewery Tbk (STRK) mulai mengalihkan fokus ke pasar ekspor dengan target kontribusi pendapatan internasional sebesar 60 persen pada 2026. Strategi ini diambil guna menyiasati lemahnya daya beli di pasar domestik, dengan mengandalkan produk inovatif seperti COCO BALI yang berbahan baku agave dari Nusa Penida.




Tinggalkan komentar