Jakarta, (BlueFindo.com) — Emiten semen raksasa, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), baru saja mengumumkan langkah strategis dalam pengelolaan modalnya. Perseroan memutuskan untuk menarik kembali ratusan juta lembar saham hasil pembelian kembali (buyback) melalui mekanisme pengurangan modal ditempatkan dan disetor penuh.

Pengurangan Modal dan Pengalihan Saham Berdasarkan keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), INTP resmi mengalihkan sebanyak 165.628.900 saham hasil buyback. Saham-saham yang ditarik ini merupakan hasil dari aksi buyback yang dilakukan perseroan pada periode 6 Desember 2021 hingga 6 Desember 2022.

Sejatinya, INTP memiliki kewajiban untuk mengalihkan total 250.158.300 saham treasury yang sebelumnya ditebus dengan harga rata-rata Rp10.930 per saham. Alih-alih menjualnya kembali ke pasar (melepas ke publik), manajemen memilih jalur pengurangan modal sebagai strategi pengelolaan. Hingga saat ini, masih terdapat sisa 84.529.400 saham treasury dari program 2021–2022 yang belum ditentukan skema pengalihannya.

Akumulasi Saham Buyback Baru Selain menuntaskan program lama, manajemen INTP juga melaporkan perkembangan program buyback terbaru yang berlangsung dari Mei hingga Desember 2024. Dalam periode tersebut, perseroan berhasil menjaring 81.099.500 saham dari pasar dengan harga rata-rata yang lebih rendah, yakni Rp6.967 per saham.

Secara keseluruhan, hingga akhir Desember 2025, total saham treasury yang dikuasai oleh perseroan tercatat sebanyak 210.492.400 saham atau setara dengan 5,99 persen dari total modal disetor.

Struktur Kepemilikan dan Kondisi Pasar Meskipun ada pengurangan modal, struktur pemegang saham pengendali tidak berubah, di mana Heidelberg Materials AG (Jerman) tetap menguasai 53,4 persen saham. Menariknya, porsi kepemilikan publik atau free float INTP tetap tergolong “jumbo”, yakni mencapai 40,37 persen yang tersebar di 12.147 pemegang saham per akhir Desember 2025.

Dari sisi performa di lantai bursa, pada perdagangan Senin (12/1), saham INTP terpantau stagnan di level Rp6.900 per saham hingga sesi pertama berakhir. Dalam enam bulan terakhir, saham ini sebenarnya telah mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 25,45 persen. Namun, bagi investor yang memegang saham sejak awal tahun (YTD), nilai investasi mereka masih terkoreksi sebesar 7,69 persen.


Eksplorasi konten lain dari Blue Finance Indonesia

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Sedang Tren