Jakarta, (BlueFindo.com) — Harga saham raksasa tambang PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) terpantau mengalami koreksi cukup dalam, yakni terkoreksi lebih dari 15% dalam sepekan terakhir. Penurunan harga yang signifikan ini ternyata berkaitan erat dengan transaksi crossing (tukar guling) saham berskala raksasa di pasar negosiasi yang sempat memicu tanda tanya besar di kalangan investor.
Restrukturisasi Internal Bernilai Fantastis Pada 19 Januari 2026, terjadi transaksi crossing di pasar negosiasi dengan nilai mencapai Rp6,9 triliun. Transaksi ini melibatkan 182 juta lot saham BUMI pada harga Rp380 per saham. Pihak yang tercatat sebagai penjual adalah Treasure Global Investments Limited (TGIL), sebuah entitas investasi asal Hong Kong yang dikendalikan oleh tokoh-tokoh kuat seperti Anthoni Salim, Agoes Projosasmito, dan Grup Bakrie.
Akibat transaksi ini, hak suara TGIL di BUMI menyusut drastis dari 8,08% menjadi hanya 3,18%. Mengingat pembeli dan penjual sama-sama menggunakan broker Ina Sekuritas—yang dikendalikan oleh Grup Salim—transaksi ini dinilai lebih sebagai perpindahan kepemilikan internal di dalam lingkaran pemegang saham utama.
Strategi Masuk Indeks MSCI Berdasarkan analisis pasar, motif utama di balik perpindahan saham ini adalah upaya strategis agar BUMI dapat masuk ke dalam indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI), khususnya untuk periode Mei 2026. MSCI diketahui sedang mengkaji perubahan metodologi perhitungan free float (saham publik).
Dalam aturan baru nanti, kepemilikan oleh badan usaha (PT) tidak akan otomatis dikategorikan sebagai free float, sedangkan kepemilikan perseorangan dinilai lebih memenuhi syarat. Dengan memindahkan saham dari entitas TGIL ke akun perseorangan atau non-PT, BUMI berupaya memperbesar porsi free float sesuai standar global. Jika berhasil masuk indeks MSCI, saham BUMI berpotensi menarik aliran dana asing (inflow) dalam jumlah besar.
Diversifikasi Menuju EBITDA Non-Batubara Di luar strategi pasar modal, BUMI juga tengah melakukan transformasi struktural pada lini bisnisnya. Perusahaan menargetkan kontribusi EBITDA non-batubara mencapai 50% pada tahun 2030. Tren pendapatan dari sektor non-batubara terus menunjukkan kenaikan, dari 2% di tahun 2023 menjadi proyeksi 10% pada tahun 2025.
Untuk mendukung langkah ekspansi dan akuisisi di sektor non-batubara, BUMI memanfaatkan pendanaan melalui Program Obligasi Berkelanjutan I dengan plafon Rp5 triliun. Hingga akhir 2025, perusahaan telah merealisasikan penerbitan obligasi sebesar Rp1,85 triliun dalam tiga tahap, sehingga masih memiliki ruang pendanaan sekitar Rp3,15 triliun untuk rencana strategis mendatang.
Meskipun harga saham mengalami tekanan dalam jangka pendek, rangkaian aksi korporasi ini menunjukkan bahwa manajemen BUMI tengah fokus pada perbaikan struktur kepemilikan dan diversifikasi usaha jangka panjang. Analis memperkirakan bahwa jika rencana masuk indeks MSCI ini berjalan mulus, harga saham BUMI berpotensi mencapai target konservatif di kisaran Rp600-Rp800 pada tahun 2026.
Source: CNBCIndonesia





Tinggalkan komentar